Pusat Modul Ajar
Modul ajar yang dibagikan guru-guru se-Indonesia. Cari, unduh, atau salin ke akun Anda — gratis.
Modul ajar yang dibagikan guru-guru se-Indonesia. Cari, unduh, atau salin ke akun Anda — gratis.
Modul Ajar · Kurikulum Merdeka
Dibagikan oleh
Choirunnissa Muslim, S.Pd — SMK Negeri 5
Pengetahuan Awal: Peserta didik telah memahami definisi dasar perundungan, intoleransi, dan kekerasan seksual dari pembelajaran sebelumnya di jenjang SMP. Mereka juga memiliki pengalaman berinteraksi sosial di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Minat: Peserta didik menunjukkan ketertarikan terhadap isu-isu sosial yang dekat dengan kehidupan remaja, terutama perundungan daring dan konflik antar kelompok. Beberapa siswa aktif dalam organisasi sekolah atau kegiatan anti-perundungan.
Latar Belakang: Peserta didik berasal dari latar belakang sosial ekonomi beragam, dengan mayoritas tinggal di perkotaan. Sebagian besar memiliki akses ke gawai dan internet. Beberapa siswa mungkin pernah menjadi saksi atau korban perundungan.
Kebutuhan Belajar / Diferensiasi Modalitas:
Dimensi Pengetahuan:
Relevansi Nyata: Materi ini langsung terkait dengan keseharian peserta didik di sekolah dan media sosial. Kasus perundungan sering terjadi di lingkungan sekolah, sehingga siswa perlu memiliki keterampilan untuk mencegah dan menanganinya.
Tingkat Kesulitan: Sedang. Materi cukup mudah dipahami secara konsep, tetapi penerapan sikap dan pengambilan keputusan dalam situasi nyata membutuhkan refleksi mendalam dan keberanian.
Struktur Materi: 1) Pengenalan konsep perundungan, intoleransi, dan kekerasan seksual; 2) Dampak pada korban dan pelaku; 3) Peran warga sekolah; 4) Strategi pencegahan dan penanganan; 5) Aksi nyata: pembuatan kampanye anti-perundungan.
Integrasi Nilai & Karakter: Gotong royong, sportivitas (menghargai perbedaan), kejujuran (melaporkan kejadian), tanggung jawab (menjaga lingkungan aman), dan bernalar kritis (menganalisis kasus).
Sarana:
Prasarana:
Pada akhir fase E, peserta didik mampu mengembangkan kemandirian dalam mengelola diri, termasuk kemampuan mengambil keputusan, berkomunikasi asertif, dan membangun relasi sosial yang sehat. Sub-elemen yang dikembangkan:
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan: Hak asasi manusia, kewajiban warga sekolah, dan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Indonesia: Menyusun teks persuasif untuk kampanye dan laporan pengamatan. Seni Budaya: Merancang poster atau video kreatif sebagai media kampanye. Informatika: Pemanfaatan media sosial secara bijak dan etika digital.
Pertemuan 1: Peserta didik mampu merancang dan mempresentasikan kampanye pencegahan perundungan, intoleransi, dan kekerasan seksual di lingkungan sekolah melalui proyek kelompok yang disertai permainan interaktif. (1 JP)
Model Pembelajaran: Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) dengan fokus pada pembuatan kampanye digital atau poster anti-perundungan.
Pendekatan Deep Learning:
Metode Pembelajaran: Diskusi kelompok, simulasi, permainan interaktif, dan presentasi proyek.
Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi:
Pembahasan: Pengenalan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman serta Pencegahan Perundungan, Intoleransi, dan Kekerasan Seksual
Bentuk: Curah pendapat (brainstorming) dan pertanyaan lisan untuk menggali pemahaman awal tentang perundungan, intoleransi, dan kekerasan seksual. Contoh pertanyaan:
Penilaian dilakukan selama diskusi, simulasi, dan permainan:
Rubrik Penilaian (Skor 1-4):
| Aspek | Skor 1 (Kurang) | Skor 2 (Cukup) | Skor 3 (Baik) | Skor 4 (Sangat Baik) |
|---|---|---|---|---|
| Kerjasama | Tidak berpartisipasi | Ikut serta tetapi pasif | Aktif bekerja sama | Memimpin kelompok dengan baik |
| Empati | Tidak menghargai pendapat teman | Kadang menghargai | Menghargai dan mendengarkan | Aktif mendukung teman |
| Penyampaian ide | Tidak jelas | Kurang jelas | Cukup jelas | Sangat jelas dan meyakinkan |
Rumus Nilai Akhir: Nilai = (Skor diperoleh / Skor maksimal) × 100
Penskoran Esai:
Catatan: Pelaksanaan remedial dapat dijadwalkan di luar jam pelajaran atau pada sesi konseling individual.
Jawablah pertanyaan berikut dengan jujur!
| No | Pertanyaan Refleksi |
|---|---|
| 1 | Apa hal paling menarik yang kamu pelajari hari ini? |
| 2 | Bagaimana perasaanmu setelah mengikuti pembelajaran ini? (senang, bingung, tertantang, dll.) |
| 3 | Adakah materi yang masih sulit kamu pahami? Jika ada, sebutkan! |
| 4 | Tuliskan satu tindakan nyata yang akan kamu lakukan setelah pembelajaran ini untuk menciptakan sekolah yang aman dan nyaman! |
Gunakan pertanyaan berikut untuk mengevaluasi proses pembelajaran:
| No | Pertanyaan Refleksi |
|---|---|
| 1 | Apakah tujuan pembelajaran tercapai? Bukti apa yang mendukung? |
| 2 | Bagaimana respons peserta didik terhadap permainan dan diskusi? Apakah mereka aktif dan bergembira? |
| 3 | Kendala apa yang dihadapi selama proses pembelajaran (waktu, media, pemahaman siswa)? |
| 4 | Apa yang akan diperbaiki pada pertemuan berikutnya? |
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)
Nama: ________________________ Kelas: ________ Tanggal: ________
Petunjuk Pengerjaan:
Instruksi: Setiap anggota kelompok mendapatkan satu kartu yang berisi peran (misal: korban perundungan, pelaku, saksi, guru, orang tua). Tanpa menunjukkan kartu, setiap orang memerankan peran tersebut dalam sebuah skenario singkat. Anggota lain menebak peran yang dimainkan. Setelah selesai, diskusikan pertanyaan berikut:
Jawaban:
Instruksi: Bacalah studi kasus berikut, lalu jawab pertanyaan.
Kasus: Seorang siswa kelas X sering diejek karena latar belakang sukunya. Ia juga mendapat ancaman kekerasan jika melapor ke guru. Teman sekelasnya tahu tapi diam saja.
Pertanyaan:
Jawaban:
Instruksi: Buatlah sketsa poster sederhana tentang budaya sekolah aman dan nyaman. Poster harus memuat satu pesan utama, gambar simbolik, dan ajakan untuk mencegah perundungan, intoleransi, dan kekerasan seksual. Tuliskan ide poster di kotak di bawah.
Apa itu budaya sekolah aman dan nyaman? Budaya sekolah aman dan nyaman adalah lingkungan sekolah di mana setiap siswa merasa dihargai, dihormati, dan terlindungi dari segala bentuk kekerasan, seperti perundungan, intoleransi, dan kekerasan seksual. Di sekolah yang aman, semua warga sekolah—guru, staf, dan siswa—bekerja sama untuk menciptakan suasana yang positif dan mendukung pertumbuhan setiap individu.
Mengapa penting? Tanpa rasa aman, siswa sulit berkonsentrasi belajar dan mengembangkan potensi diri. Perundungan dan kekerasan seksual bisa menyebabkan trauma jangka panjang, menurunkan kepercayaan diri, dan bahkan mengganggu kesehatan mental. Oleh karena itu, pencegahan adalah tanggung jawab kita semua.
Apa yang bisa kita lakukan?
Cerita singkat: Rina adalah siswa kelas X yang pendiam. Setiap hari ia diejek karena bentuk tubuhnya. Awalnya ia diam, tapi lama-lama ia merasa tertekan dan tidak mau sekolah. Untungnya, teman sekelasnya, Dito, berani melaporkan kejadian itu ke guru BK. Guru kemudian mengadakan diskusi kelas tentang dampak perundungan. Pelaku meminta maaf, dan sejak itu kelas mereka menerapkan 'satu hari tanpa ejekan' setiap minggu. Rina kembali percaya diri dan teman-temannya lebih peduli satu sama lain.
Permainan 'Detektif Budaya Sekolah' Untuk memperkuat pemahaman, kita akan bermain permainan "Detektif Budaya Sekolah". Setiap kelompok akan menerima kartu situasi (misalnya: ada yang dipanggil dengan nama panggilan yang tidak disukai, atau candaan tentang agama). Kalian harus mendiskusikan apakah itu termasuk perundungan, intoleransi, atau kekerasan seksual? Lalu bagaimana cara bertindak yang tepat? Kelompok yang paling cepat dan tepat akan mendapat poin. Ayo, kita jadikan sekolah kita tempat yang aman dan nyaman untuk semua!
| Kriteria | Sangat Baik (4) | Baik (3) | Cukup (2) | Perlu Bimbingan (1) |
|---|---|---|---|---|
| Partisipasi Aktif dalam Permainan | Selalu terlibat aktif, memberikan ide, dan mendorong anggota lain | Sering terlibat, kadang memberikan ide | Terlibat hanya saat diminta | Tidak terlibat atau mengganggu |
| Pemahaman Konsep Pencegahan | Membedakan dengan jelas jenis kekerasan dan langkah pencegahan | Membedakan sebagian besar dengan benar | Membedakan dengan bantuan | Tidak dapat membedakan |
| Kerjasama dalam Kelompok | Bekerja sama dengan baik, menghargai pendapat anggota lain | Bekerja sama dengan cukup baik, kadang mendominasi | Kurang bekerja sama, tidak mau berbagi tugas | Tidak mau bekerja sama |
| Refleksi dan Sikap | Menunjukkan empati dan komitmen untuk menciptakan budaya aman | Menunjukkan empati, kurang komitmen | Kurang menunjukkan empati | Tidak peduli |
Rumus Nilai: Nilai akhir = (Total skor / 16) × 100
a. Mengejek teman karena pakaiannya b. Memukul teman saat jam istirahat c. Menyebarkan gosip tentang teman d. Mengucilkan teman dari kelompok bermain
a. Menghormati teman yang berbeda agama b. Memaksa teman untuk mengikuti keyakinan kita c. Bergotong royong membersihkan kelas d. Membantu teman yang kesulitan belajar
a. Membiarkan siswa bergaul bebas tanpa batasan b. Menyediakan saluran pelaporan yang aman dan rahasia c. Menghukum korban yang melapor d. Menutup kasus kekerasan seksual agar tidak diketahui
a. Acuh tak acuh terhadap teman yang berbeda b. Saling menghargai dan mendukung antar warga sekolah c. Membentuk kelompok eksklusif yang tertutup d. Menyelesaikan masalah dengan kekerasan
a. Ikut serta merundung agar tidak dianggap lemah b. Diam saja karena takut menjadi sasaran c. Melaporkan kejadian tersebut kepada guru atau pihak sekolah d. Merekam dan menyebarkan video perundungan
Kunci Jawaban:
| No | Jawaban |
|---|---|
| 1 | b |
| 2 | b |
| 3 | b |
| 4 | b |
| 5 | c |
Perundungan (Bullying) : Tindakan agresif yang dilakukan secara berulang oleh seseorang atau kelompok yang memiliki kekuasaan terhadap korban yang lebih lemah, baik secara fisik, verbal, maupun sosial.
Intoleransi : Sikap tidak menghargai perbedaan dan tidak mau menerima keberagaman, sering kali disertai dengan tindakan diskriminasi.
Kekerasan Seksual : Setiap tindakan seksual yang dilakukan tanpa persetujuan korban, termasuk pemaksaan, pelecehan, dan eksploitasi seksual.
Budaya Sekolah : Nilai-nilai, norma, kebiasaan, dan tradisi yang dianut dan dipraktikkan oleh seluruh warga sekolah dalam kehidupan sehari-hari.
Pencegahan : Upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya perundungan, intoleransi, dan kekerasan seksual sebelum muncul, melalui edukasi, pengawasan, dan penciptaan lingkungan yang aman.
Pelapor (Whistleblower) : Seseorang yang melaporkan tindakan perundungan, intoleransi, atau kekerasan seksual kepada pihak berwenang, dan perlu dilindungi dari ancaman atau pembalasan.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Buku Panduan Guru Bimbingan dan Konseling SMA/MA Kelas X. Jakarta: Kemendikbudristek.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2021). Panduan Pencegahan dan Penanganan Perundungan di Satuan Pendidikan. Jakarta: Kemendikbudristek.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia. (2020). Pencegahan Kekerasan Seksual pada Anak di Lingkungan Sekolah. Jakarta: KPAI.
Yayasan Semai Jiwa Amini. (2019). Buku Saku Anti Perundungan. Jakarta: Sejiwa.
Wiyani, N. A. (2018). Manajemen Budaya Sekolah: Menciptakan Lingkungan Belajar yang Nyaman dan Aman. Yogyakarta: Gava Media.
Salin ke akun saya membuat salinan yang bisa Anda ubah dan sesuaikan dengan sekolah Anda — gratis.
| Kriteria | Skor 1 | Skor 2 | Skor 3 | Skor 4 |
|---|---|---|---|---|
| Isi jawaban | Tidak relevan | Kurang tepat | Tepat dan lengkap | Sangat lengkap dan mendalam |
| Bahasa | Tidak jelas | Kurang jelas | Cukup jelas | Sangat jelas dan terstruktur |
Nilai akhir = (Skor proyek + skor unjuk kerja + skor tes) / 12 × 100 (maksimal 12).
Sketsa Poster:
| (Kotak kosong untuk sketsa) |
|---|
Pesan utama poster: __________________________________
(…………………………………)
(…………………………………)